Selasa, 05 Mei 2020

VALIDASI METODE ANALISIS KIMIA DAN VERIFIKASI MENURUT ISO 17025

validasi metode pengujian kimia

Validasi metode analisis adalah serangkaian kegiatan untuk memastikan bahwa metode yang dipilih dan digunakan telah sesuai dengan kriteria kesesuaian metode pengujian secara kimia di laboratorium. Di dalam sistem manamejem mutu laboratorium yaitu ISO/IEC 17025:2017 dikemukakan dalam klausul 7.2.2.

1. Landasan Validasi Metode

Suatu organisasi laboratorium yang akan melakukan proses akreditasi laboratorium yang sesuai dengan landasan pada SNI ISO 17025, maka harus menetapkan prosedur pemilihan, verifikasi dan validasi metode pengujian.

Beberapa klausul yang diatur dalam dokumen sistem manajemen mutu standar dari iso 17025 versi 2017 adalah sebagai berikut:

7.2.2.1 Laboratorium harus memvalidasi metode non-standar, metode yang dikembangkan oleh laboratorium dan metode standar yang digunakan di luar lingkup yang dimaksudkan atau dimodifikasi. Validasi harus seluas yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan aplikasi atau bidang aplikasi yang diberikan.

CATATAN 1 Validasi dapat mencakup prosedur pengambilan contoh, penanganan dan pengangkutan barang uji atau kalibrasi.

CATATAN 2 Teknik yang digunakan untuk validasi metode dapat berupa salah satu dari, atau kombinasi berikut ini:
a) kalibrasi atau evaluasi bias dan presisi menggunakan standar acuan atau bahan acuan;
b) penilaian sistematis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi hasil;
c) pengujian ketahanan metode melalui variasi parameter yang dikontrol, seperti suhu inkubator, volume dikeluarkan;
d) perbandingan hasil yang dicapai dengan metode lain yang sudah divalidasi;
e) perbandingan antar laboratorium;
f) evaluasi ketidakpastian pengukuran hasil berdasarkan pemahaman tentang prinsip teoritis dari metode dan pengalaman praktis dari kinerja sampling atau metode uji.

7.2.2.2 Bila perubahan dilakukan terhadap metode yang divalidasi, pengaruh perubahan tersebut harus ditentukan dan bila terbukti mempengaruhi validasi asli, diperlukan validasi metode baru.

7.2.2.3 Karakteristik kinerja metode yang divalidasi, sebagaimana dinilai untuk penggunaan yang dimaksud, harus relevan dengan kebutuhan pelanggan dan konsisten dengan persyaratan yang ditentukan.

CATATAN Karakteristik kinerja dapat mencakup, namun tidak terbatas pada, rentang pengukuran, akurasi, ketidakpastian pengukuran hasil, batas deteksi, batas kuantifikasi, selektifitas metode, linieritas, pengulangan atau reproduksibilitas, ketahanan terhadap pengaruh eksternal atau sensitifitas silang terhadap gangguan dari matriks sampel atau benda uji, dan bias.

7.2.2.4 Laboratorium harus menyimpan rekaman validasi berikut ini:
a) prosedur validasi yang digunakan;
b) spesifikasi persyaratan;
c) penentuan karakteristik kinerja metode;
d) hasil yang diperoleh;
e) pernyataan tentang keabsahan metode, yang merinci kesesuaiannya untuk tujuan penggunaan.

2. Pengertian dan Pengembangan Metode Pengujian


Dalam dunia laboratorium, analisis sering digunakan untuk menggambarkan proses pengujian kimia. Metode analisis secara umum didasari oleh berbagai literatur yang telah ada sebelumnya dimana proses analisis itu sendiri menggunakan instrumen.

Dalam suatu pengembangan metode analisis, selalu mempertimbangkan syarat metode dan jenis instrumen yang akan digunakan. Misalkan saja, pada saat pengembangan metode analisis menggunakan Gas Chromatography, maka pertimbangan yang diperlukan adalah suhu oven, suhu inlet, suhu detektor, detektor yang digunakan dan gas pembawa yang digunakan.

Dibawah ini, terdapat beberapa alasan yang biasa muncul saat akan mengembangkan suatu metode analisis yaitu:
  1. Adanya metode yang akan digunakan tidak ada yang sesuai untuk menganalisis suatu analit yang terkandung di dalam suatu matrik sampel.
  2. Metode pengujian kimia yang digunakan saat ini, terlalu banyak menimbulkan kesalahan. Dalam arti kata bahwa metode yang digunakan sudah tidak reliabel (tidak presisi dan atau akurasi).
  3. Metode yang sudah diterapkan saat ini terlalu mahal, banyak tahapan reaksi, waktu yang lama, banyak membutuhkan sumber daya dan sangat tidak praktis.
  4. Metode yang digunakan tidak terlalu sensitif atau spesifik terhadap sampel yang dituju.
  5. Instrumen dan teknis pengujian sudah tergolong lama dibanding dengan metode yang ada saat ini.
  6. Adanya kebutuhan dalam pengembangan alternatif metode.

3. Mengapa Validasi Metode itu Penting?

Mengingat banyaknya metode yang beredar baik yang standar maupun tidak standar serta banyaknya permintaan pelanggan terhadap penentuan kualitas atau karakter suatu sampel maka validasi metode sangat diperlukan.

Mengapa dikatakan demikian? karena validasi metode adalah suatu bagian penting dalam memantau kualitas data hasil pengujian. Melalui validasi maka dapat membantu dalam memberikan jaminan bahwa proses analisis dapat diandalkan dan dapat dipertanggung jawabkan hingga ke ranah hukum.

Beberapa organisasi yang mengharuskan dilakukannya validasi atau verifikasi adalah International Standards Organization (ISO) 17025, Association of Official Analytical Chemists (AOAC) International, American Society for Testing and Material (ASTM) International, dan International Laboratory Accreditation Cooperation (ILAC).

4. Perbedaan Verifikasi dan Validasi Metode

Validasi adalah kegiatan untuk mengkonfirmasi melalui berbagai pembuktian terhadap pemeriksaan suatu analit di dalam matrik sampel tertentu dan telah sesuai dengan tujuan pengujian itu sendiri. Validasi ini digunakan untuk memastikan metode pengujian yang tidak standar atau metode yang dikembangkan secara internal laboratorium (in-housed method).

Melalui validasi, maka laboratorium dapat mengetahui rentang ukur dan akurasi metode yang digunakan sehingga dapat memenuhi keinginan pelanggan. Selain itu validasi juga merupakan suatu bentuk konfirmasi melalui rangkaian pengujian dan pengadaan bukti-bukti yang bersifat objektif.

Beberapa hal mengapa suatu organisasi laboratorium harus melakukan validasi metode yang digunakan adalah:
  1. Metode tersebut merupakan metode yang tidak baku.
  2. Metode yang didesain atau dikembangkan oleh laboratorium itu sendiri berdasarkan hasil uji optimasi suatu metode untuk menganalisis analit di dalam suatu sampel.
  3. Metode baku namun digunakan diluar ruang lingkup yang ditetapkan dalam metode baku itu sendiri.
  4. Metode baku yang telah atau akan dimodifikasi.
  5. Metode baku yang digunakan untuk menegaskan dan mengkonfirmasi bahwa metode pengujian yang digunakan telah sesuai dengan penggunaan yang dimaksudkan sebelumnya.

Verifikasi adalah kegiatan untuk mengkonfirmasi ulang suatu metode yang digunakan karena adanya pembaharuan atau penggunaan untuk sampel lain. Adapun parameter yang digunakan dalam memverifikasi metode adalah lebih sedikit dari pada validasi.

Verifikasi dapat digunakan sesuai dengan keperluan di lapangan, mengingat bahwa sejauh mana modifikasi metode uji dan sifat dari kondisi yang baru serta akan digunakan.

Secara prinsip antara validasi dan verifikasi memiliki karakter yang sama karena tujuan dari kedua pekerjaan tersebut sama-sama untuk menguji suatu metode apakah masih memiliki akurasi dan presisi yang optimal.

Parameter verifikasi metode pengujian yang sering saya gunakan dan cukup sesuai untuk meminimalisasi temuan ketidaksesuaian pada saat asesmen laboratorium adalah Penentuan akurasi, presisi, batas deteksi dan batas kuantifikasi.

5. Parameter Validasi Metode Analisis

parameter validasi metode analisis

Beberapa parameter dalam melakukan valudasi metode uji dijabarkan menurut United States Pharmacopeia (USP) yaitu uji presisi, uji akurasi, batas deteksi (LoD), batas kuantifikasi (LoQ), batas linieritas (LoL), spesifikasi, linieritas dan rentang, kekerasan metode (ruggedness), dan ketahanan metode (robustness).

5.1. Parameter Uji Presisi

Presisi metode adalah suatu derajat keterulangan metode analisis, biasanya diekspresikan sebagai simpangan baku relatif (relative standard deviation) (RSD). Berikutnya presisi juga dapat diartikan sebagai ukuran kedekatan hasil pengujian yang diperoleh dari serangkaian pengukuran yang diulang.

Keterungan adalah presisi yang dilakukan dalam kondisi yang sama diantaranya analis sama, alat sama, tempat atau lokasi sama dan waktu yang tidak terlalu jauh berbeda.

Nilai RSD sering juga disebut sebagai koefisien variansi (KV) dari beberapa pengukuran sampel. Terdapat tiga tingkatan untuk menentukan presisi menurut International Conference on Harmonization (ICH) adalah
  1. Keterulangan (repeatability)
  2. Presisi antara (intermediate precision)
  3. Ketertiruan (reproducibility)

Terdapat 2 alternatif mengenai jumlah data yang sesuai untuk menentukan presisi suatu metode pengujian yaitu 9 kali atau 6 kali ulangan. Pengulangan data sebanyak 9 kali dilakukan apabila sampel atau zat yang anda gunakan memiliki 3 konsentrasi berbeda, sehingga setiap konsentrasi harus dilakukan minimal 3 kali ulangan.

Nah, berikutnya jika anda melakukan ulangan tetapi menggunakan 1 jenis sampel saja dan konsentrasinya 100% dari konsentrasi bahan itu sendiri maka ulangan harus dilakukan minimal 6 kali.

Keterulangan dan presisi antara, digunakan untuk menentukan presisi secara internal laboratorium. Namun dibagi lagi menjadi 2 golongan, apabila dilakukan oleh analis, metode, instrumen dan waktu yang berdekatan maka dapat dikatakan sebagai repeatability.

Sebaliknya, jika salah satu dari 4 tersebut berbeda, misalkan saja analis berbeda maka dapat dikatakan presisi intermediate precision.

Repeatability adalah kedekatan hasil analisis yang menggunakan suatu metode jika dilakukan berulang-ulang oleh analis yang sama dan waktu interval yang pendek. 

Berikutnya ketertiruan atau reproducibility merupakan penentuan presisi yang dilakukan oleh laboratorium berbeda maka secara otomatis analis, metode ataupun instrumen yang digunakan juga berbeda. Untuk memperoleh reprodusibilitas ini dapat dilakukan dengan cara uji banding atau uji profisiensi antar laboratorium.

Baca Juga: Uji Banding dan Uji Profisiensi

Reproducibility adalah keseksamaan hasil analisis suatu sampel dari pengerjaan pada kondisi yang berbeda. Kondisi yang berbeda tersebut adalah analis, waktu, peralatan, pereaksi dan pelarut.

Uji presisi pada kegiatan validasi atau verifikasi metode pengujian dilakukan dengan cara melakukan pengujian terhadap suatu sampel atau kontrol sampel internal sebanyak 7 kali ulangan. Dalam penentuannya sertakan juga blanko sebagai koreksi.

Sampel tersebut dipersiapkan dan diuji sesuai dengan metode yang telah dipersiapkan atau dikembangkan sebelumnya. Kemudian data yang diperoleh diolah menggunakan microsoft excel atau sejenisnya untuk memudahkan anda dalam analisis data.

Data yang dihasilkan dihitung beberapa nilai tersebut:
  • Hasil akhir setelah dikurangi dengan nilai blanko
  • Nilai rata-rata
  • Nilai standar deviasi
  • Nilai persentase relatif standar deviasi (%RSD)
  • Nilai 2/3 KV Horwitz

Nah, setelah semua data tersebut kamu peroleh, selanjutnya bandingkan nilai RSD dengan 2/3 KV Horwitzh. Suatu metode pengujian dikatakan presisi apabilai nilai %RSD lebih kecil dari 2/3 KV Horwitzh.

5.2. Parameter Uji Akurasi

Akurasi adalah derajat kedekatan antara nilai yang terukur (measured) dengan batas nilai suatu analit yang sebenarnya dalam suatu matrik sampel (accepted true value). Nilai tersebut bisa berupa nilai konvensi, nilai sebenarnya atau nilai rujukan.

Akurasi juga ditentukan untuk menentukan seberapa banyak perolehan kembali analit dari sampel dari proses perlakuan atau disebut spiking sampel.

Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan akurasi yaitu menggunakan CRM (Certified Reference Material), spiking terhadap plasebo dan dengan cara penambahan standar (standar adisi).

Uji akurasi pada validasi metode dilakukan dengan cara menggunakan CRM apa bila jenis sampel dan parameter uji yang akan diukur terdapat jenis CRM yang tersedia. Jika CRM tidak ada maka dapat pula menggunakan SRM (Standard Reference Material) atau standar acuan. SRM biasanya dijual dalam bentuk larutan dengan konsentrasi analit tertentu misalkan 1000 ppm.

Berikutnya, persiapkan juga sampel atau matrik yang telah diketahui nilainya. Kemudian anda persiapkan juga larutan blanko. Tahap uji akurasi diawali dengan mempersiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses validasi metode.

Seperti yang saya ulas sebelumnya, penentuan akurasi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu menggunakan CRM dan standar adisi. Apabila anda tidak memiliki CRM maka akurasi dapat ditentukan dengan standar adisi.

Proses standar adisi dilakukan dengan cara menambahkan larutan standar kedalam blanko dengan beberapa deret konsentrasi yaitu 50, 75, 100, 125 dan 150% dari konsentrasi analit didalam sampel yang telah diketahui nilainya.

Blako tersebut dipersiapkan dan dianalisis sesuai dengan kondisi pada saat proses pengujian sampel yang dilakukan sebelumnya. Jangan ada satu tahap pun yang tertinggal, sehingga kita benar-benar mengetahui tingkat akurasi dari metode yang digunakan.

Setelah anda mendapatkan nilai konsentrasi analit dari matrik blanko, maka selanjutnya anda hitung persentase perolehan kembali (percent recovery) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:


Berikutnya setelah mendapatkan nilai persen recovery atau persentase temu balik, maka evaluasi nilai yang ditemukan dengan data pada tabel berikut ini:


Dari data pada tabel diatas, silahkan anda evaluasi sendiri, apakah nilai persen temu balik yang anda analisa telah masuk kedalam ketentuan pada tabel tersebut.

5.3. Parameter Uji Spesifitas pada Validasi Metode Pengujian

Uji spesifitas adalah penentuan terhadap kemampuan suatu metode pengujian untuk menentukan atau mengukur analit yang dituju secara spesifik dan tepat walaupun terdapat analit-analit lain dalam suatu matrik. analit lain tersebut bisa saja dalam bentuk pengotor atau memang terdapat analit dominan lain di dalam matrik sampel tersebut.

Mengapa dikatakan demikian, karena pada saat proses preparasi sampel uji menggunakan suatu bahan kimia baik berupa asam ataupun basa maka secara langsung juga akan mengekstrak analit lain yang terikut ke dalam ekstrak sampel yang akan diukur. Itulah sebabnya pentingnya menentukan spesifitas metode.

Spesifitas metode biasanya digunakan terhadap suatu parameter yang menggunakan instrumen pengujian berupa kromatorafi. Baik itu Gas Chromatography (GC), High Performance Liquid Chromatography (HPLC ataupun Ion Chromatography (IC). Walaupun dalam kenyataannya uji spesifitas dapat pula digunakan jika menggunakan instrumen lain seperti Spektrofotometer dan Spekstroskopi Serapan Atom (SSA) atau Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS).

Terdapat dua cara untuk menentukan uji spesifitas ini yang pertama yaitu dengan cara:
  1. Membandingkan hasil pembacaan standar dengan pembacaan sampel yang mengandung zat pengotor, senyawa lain yang terdegradasi atau komponen plasebo lainnya.
  2. Menggunakan detektor selektif terutama pada saat anda menganalisis senyawa yang terelusi secara bersamaan.
Metode yang dikatakan spesifik yaitu metode yang mampu memberikan perbedaan resolusi antara zat pengotor dengan sampel adalah labih besar dari 2 (Rs >= 2).

5.4. Batas Deteksi atau Limit of Detection (LoD)

Batas deteksi adalah suatu parameter dalam validasi metode yang digunakan untuk menentukan sensitifitas suatu metode analisis. Selain itu, batas deteksi juga dapat didefenisikan sebagai batas konsentrasi terkecil dari suatu analit yang terkandung di dalam matrik dan nilainya masih bisa terdeteksi oleh instrumen yang digunakan.

Secara defenisi kimia bahwa LoD dapat ditentukan dari respon rata larutan blanko ditambah dengan 3 kali standar deviasi nilai blanko. Disisi lain, para ahli mendefenisikan bahwa LoD adalah rasio dari pembacaan noise (signal to noise ratio). Adapun rasio tersebut adalah 2 atau 3 banding 1.

Setelah anda mendapatkan nilai LoD maka nilai ini dapat digunakan sebagai acuan pada saat anda melaporkan hasil pengujian kedalam sertifikat hasil pengujian atau laporan hasil pengujian. Apabila pada saat anda melakukan proses analisis, diperoleh nilai analit dari suatu matrik sampel yang berada di bawah nilai LoD maka nilai tersebut dilaporkan < nilai LoD.

Mengapa dikatakan demikian? Karena jika anda menemukan hasil yang berada dibawah nilai LoD berarti nilai tersebut sudah memiliki nilai bias yang sangat besar. Artinya jika sampel tersebut dianalisis secara berulang-ulang maka nilainya akan memberikan nilai simpangan baku atau standar deviasi yang besar. Sehingga jika dievaluasi akan lebih besar dari nilai 2/3 KV Horwitzh. Sehingga bisa disimpulkan bahwa nilai tersebut tidak presisi bahkan memiliki tingkat akurasi yang sangat rendah.

5.5. Batas Kuantifikasi atau Limit of Quantification (LoQ)

Batas kuantifikasi atau limit of quantification adalah konsentrasi analit terekcil dari suatu matrik sampel dimana nilai tersebut masih memiliki tingkat presisi dan akurasi yang baik. Sama halnya dengan LoD, baha LoQ ini hampir sama cara menentukannya dan biasanya para analis atau peneliti menentukannya dilaksanakan secara bersamaan antara LoD dan LoQ.

Yang membedakan cara menentukannya adalah faktor pengalinya, jika LoD dikalikan dengan 2 atau 3 sedangkan LoQ dikalikan dengan 10. Sehingga dapat disimpulkan bahwa LoQ tersebut adalah rasio signal terhadap noise (signal to noise ratio) adalah 10:1 (10 banding 1).

Baiklah setelah anda memperoleh defenisi dari LoD dan LoQ, maka selanjutnya saya akan memaparka bagaimana cara menentukan nilai LoD dan LoQ yang benar dan dapat digunakan sebagai bahan dalam mempersiapkan persyaratan sistem manajemen mutu ISO 17025.

Adapun cara yang biasa digunakan untuk menentukan nilai LoD dan LoQ adalah melalui kurva regresi deret larutan standar yang digunakan melalui persamaan regresi yang diperoleh. Dari persamaan regresi tersebut anda cari nilai slope atau kemiringan (S), yaitu nilai b dari persamaan regresi Y = a x bX. Berikutnya adalah anda tentukan juga nilai standar deviasi atau simpangan baku dari data hasil pembacaan blanko. Berikutnya setelah anda mendapatkan data tersebut, silahkan hitung nilai LoD dan LoQ menggunakan persamaan dibawah ini:


5.6. Linieritas Metode Analisis

Linieritas adalah sesuatu kemampuan dari metode analisis yang memberikan respon baik terhadap adanya perbedaan nilai analit yang terkandung di dalam suatu matrik sampel. Semakin linier hasilnya maka metode, instrumen dan rentang ukurnya sangat cocok digunakan untuk menentukan suatu analit di dalam matrik sampel.

Selain linieritas, hal yang berhubungan dengan itu adalah rentang kerja. Rentang kerja adalah suatu nilai atau batas yang dihasilkan dari pernyataan yang didasari oleh batas terendah dan tertinggi dari konsentrasi analit yang mampu dideteksi secara linier, akurat dan presisi.

Linieritas diperoleh dari hasil pembacaan deret larutan standar dengan berbagai variasi konsentrasi yang telah ditetapkan. Dasar dari penetapan tersebut adalah melalui informasi dari buku pedoman alat atau nilai yang ditetapkan dari metoda standar yang akan digunakan.

Prosedur kerja secara umum adalah dengan cara mengencerkan larutan standar atau SRM menjadi larutan intermediet. Biasanya saya membuat pengenceran bertingkat karena untuk mengurangi bias dari proses pemipetan dan ketidakpastian peralatan ukur yang digunakan misalnya volumetric pipette, volume flask atau adjustable pipette.

Setelah anda membuat larutan intermediet, kemudian anda encerkan kembali menjadi larutan kerja. Larutan kerja yang saya maksudkan adalah suatu larutan standar atau SRM yang memiliki konsentrasi lebih kecil dari larutan intermediet dan lebih besar dari variasi konsentrasi SRM yang akan digunakan.

Kemudian silahkan anda buat pengenceran pada volumetric flask berbeda yang terdiri dari minimal 4 variasi konsentrasi. Perlu diperhatikan juga bahwa untuk menentukan linieritas metode, sebaiknya pembuatan deret larutan standar diulang sebanyak minimal 7 kali ulangan. Tentunya teman-teman sekalian bertanya, mengapa harus 7, jawaban yang saya berikan cukup sederhana yaitu semakin banyak jumlah data yang diperoleh maka data hasil pengolahan secara statistik akan semakin baik kualitasnya. Selain itu, pengulangan sebanyak 7 kali akan menjadi nilai tambah pada saat asesor melalukan audit pada dokumen validasi metode analisis.

Setelah semua deret larutan standar selesai anda buat dengan cara yang telah ditetapkan dalam metode rujukan, maka selanjutnya silahkan analisis kandungan analit dari masing-masing deret larutan standar tersebut. Data yang perlu kamu ambil atau catat adalah:
  1. Jika dianalisis menggunakan metode spektrofotometer, AAS atau yang hampir sama prinsip kerjanya, maka anda catat absorbansi, dan konsentrasi deret larutan standar tersebut.
  2. Kemudian jika anda menggunakan instrumen dengan prinsip kromatografi, maka data yang anda catat adalah luas puncak dari masing-masing deret larutan standar.
  3. Jika menggunakan metode titrimetri maka yang perlu anda catat sudah tentu volume standar yang terpakai untuk menentukan analit di dalam matrik SRM.

Linieritas dinyatakan ditentukan dari variansi konsentrasi analit terhadap garis regresi dengan penentuan menggunakan persamaan matematika. Oleh sebab itu setelah data anda dapatkan, maka silahkan anda olah data tersebut menggunakan microsoft excel. Adapun mengapa saya sarankan menggunakan microsoft excel karena cendrung lebih mudah pengoperasiannya dari pada program pengolah data statistik lainnya seperti SPSS.

Setelah data semua anda input ke dalam microsoft excel, maka selanjutnya adalah hitung rata-rata dari absorbansi atau luas area atau volume standar (titrimetri) dari tiap-tiap deret larutan standar. Kemdian hitung juga nilai rata-rata dari sekumpulan data konsentrasi analit terbaca.

Data yang telah anda hitung rata-ratanya tersebut kemudian plotkan menggunakan chart tipe scater. Untuk lebih jelasnya InsyaAllah saya akan membuatkan video youtube agar teman-teman lebih mudah dalam memahami atau mempraktekkan tentang cara pengolahan data linieritas menggunakan microsoft excel. Untuk mempersiapkan agar teman-teman mendapatkan informasi mengenai update video di youtube, silahkan berlangganan secara gratis (subscribe) chanelnya Disini

Nah, setelah anda mendapatkan nilai persamaan regresinya, tentunya anda juga mendapatkan nilai R square atau R kuadrat. Maka linieritas suatu metode dapat ditentukan, apabila nilai R kuadrat berada diatas 0.995 maka metode yang anda gunakan cocok dan linier atau memiliki hasil yang proporsi terhadap perbedaan dari masing-masing perbedaan konsentrasi. Sebaliknya, apabila nilai R kuadrat lebih kecil dari 0,995 maka metode anda tidak memberikan respon yang linier terhadap adanya perbedaan konsentrasi analit dalam suatu matrik sampel.

5.7. Kisaran atau Rentang Metode

Rentang atau kisaran metode adalah batas terendah dan tertinggi  dari konsentrasi analit yang terkandung di dalam suatu matrik sampel. Adapun rentang dapat ditentukan setelah kita menentukan uji akurasi, presisi dan linieritas suatu metode analisis. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa, rentang dapat ditentukan setelah metode tersebut memiliki tingkat akurasi dan presisi yang baik serta memiliki respon yang baik (linier).

Penentuan kisaran ditentukan berdasarkan jenis metode dan tujuan penggunaannya. Dalam penentuan konsentrasi komponen utama (mayor), konsentrasi baku ditentukan dengan nilai yang dekat dengan konsentrasi analit didalam sampel yang diharapkan.

Agar kita tidak bingung dalam menentukan nilai rentangnya, maka sebaiknya buatlah deret konsentrasi yang berbeda dengan nilai kisaran 25, 50, 75, 100, 125 dan 150% dari nilai konsentrasi anali di dalam matriknya.

Setelah melakukan itu, tentunya anda akan bingung cara melakukan evaluasinya. Baik, disini saya akan memberikan batas keberterimaan dari kisaran metode yang sesuai. Pada tabel berikut ini disajikan kisaran serta keberterimaan dalam menentukan linieritas dan kisaran.

kisaran validasi metode analisis

Persen (%) intercept yang dimaksud adalah dihitung dengan rumus berikut:


5.8. Kekasaran Metode (Ruggedness)

Kekasaran metode adalah presisi metode (reprodusibilitas) yang telah dipengaruhi oleh banyak kondisi seperti reagen, peralatan, fasilitas laboratorium bahkan juga iklim lokasi tempat pengujian. Intepretasi kekasaran metode di jabarkan dalam bentuk %RSD atau cara lain untuk menentukan tingkat presisinya.

Selain %RSD, ada juga suatu laboratorium menggunakan Z-Score. Kemudian kekasaran metode juga bisa diperoleh dari hasil uji banding atau uji profisiensi. Kekasaran metode pada saat pertama kali digunakan, biasanya tidak terlihat bahwa metode tersebut tangguh atau tidak maka diperlukan suatu pengujian lanjutan menggunakan kondisi yang berbeda-beda.

Evaluasi kekasaran metode dijabarkan dalam 2 cara seperti yang saya ulas di atas yaitu menggunakan %RSD yang dibandingkan dengan CV Horwitzh atau dengan menentukan Z-Score, untuk lebih jelasnya, silahkan lihat pada tabel berikut ini:


5.9. Ketahanan Metode Uji (Robustness)

Ketahanan adalah parameter untuk menentukan kapasitas atau kemampuan metode agar tetap memberikan hasil yang akurat dan presisi apabila diberikan veriasi yang kecil. Contoh dari variasi kecil yang saya maksud tersebut adalah variasi volume pelarut (pengekstrak) yang digunakan, kondisi pH pada saat preparasi dan pengujian sampel, suhu dan lain-lain.

Proses penentuan ketahanan metode analisis yang dianjurkan adalah dengan melakukan perubahan pada salah satu bagian dari proses pekerjaan. Apakah itu anda melakukan variasi terhadap pelarut yang digunakan atau zat asam yang digunakan pada saat proses destruksi.

Apabila hasil dari variasi kondisi tersebut ternyata memberikan hasil yang berbeda maka dapat disimpulkan bahwa metode analisis yang digunakan tidak memiliki karakter ketahanan metode. Syarat keberterimaan atau suatu metode dapat dikatakan memiliki ketahanan yang baik biasanya menggunakan Uji t berpasangan. Khusus untuk topik Uji t berpasangan ini akan saya bahas pada kesempatan lain. Karena jika diulas dalam halaman ini juga maka tidak akan efektif dan efisien.

Demikian sedikit sharing informasi mengenai validasi metode pengujian, semoga informasi ini dapat bermanfaat  untuk para pembaca setia laboratorium mutu. Terimakasih

Jika Rekan-rekan sekalian membutuhkan Panduan Mutu dan Prosedur Mutu, kami menawarkan template dokumen tersebut untuk memudahkan rekan-rekan dalam memahami bahkan bisa langsung mengimplementasikan ISO/IEC 17025: 2017. Kami juga menawarkan template Formulir yang diperlukan untuk menjalankan Prosedur. Untuk informasi lebih detail, silahkan kontak via Seluler or WA ke nomor 0821-7254-5061.

Referensi:

  • Rohman, A. 2016. Validasi dan Penjaminan Mutu Metode Analisis Kimia. UGM Press, Yogyakarta.
  • Riyanto. 2014. Validasi dan Verifikasi Metode Uji Sesuai dengan ISO/IEC 17025 Laboratorium Penguji dan Kalibrasi. Deepublish.

KLAUSUL SEBELUMNYA:

KAJI ULANG PERMINTAAN TENDER DAN KONTRAK PENGUJIAN ATAU KALIBRASI

KLAUSUL SELANJUTNYA:

PENGAMBILAN SAMPEL 

Saya sangat senang seluruh artikel di dalam blog ini dapat bermanfaat. Penulis adalah praktisi laboratorium yang mulai bergelut dibidang sistem manajemen laboratorium ISO 17025 sejak 2013.


EmoticonEmoticon