Rabu, 12 Agustus 2020

METODE PENELITIAN : Jenis dan Definisinya Untuk Anda Ketahui

METODE PENELITIAN : Jenis dan Definisinya Untuk Anda Ketahui

metode penelitian
Metode Penelitian - Saat kita hendak melakukan suatu penelitian, tentunya kita harus menentukan terlebih dahulu jenis metode untuk melaksanakan penelitian. Melalui penentuan jenis metode penelitian, maka dapat diketahui prosedur, peralatan serta desain penelitian yang akan kita gunakan.

Oleh sebab itu, sebelum melakukan penelitian maka ada 3 hal yang perlu dipertanyakan sebelum melaksanakan penelitian yaitu:
  1. Bagaimana urutan penelitian yang ingin dilakukan?
  2. Anda menggunakan alat apa untuk mengukur atau mengumpulkan data?
  3. Bagaimana cara melakukan penelitian itu?

1. Jenis dan Kelompok Metode Penelitian

Sebagai dasar untuk menggunakan metode penelitian maka kita harus menentukan terlebih dahulu teknik yang digunakan serta prosedur penelitian. Menurut Crawford tahun 1928, jenis penelitian terdiri dari 14 yaitu:
  1. Eksperimen
  2. Sejarah
  3. Psikologis
  4. Case study
  5. Survei
  6. Membuat kurikulum
  7. Analisa pekerjaan
  8. Interview
  9. Questionair
  10. Observasi
  11. Pengukuran
  12. Statistik
  13. Tabel dan Grafik
  14. Teknis perpustakaan.

Setelah kita mengetahui 14 jenis penelitian yang dijabarkan oleh Crawford, maka kita akan mengalami kebingungan karena terdapat beberapa jenis penelitian, yang mana itu semua hampir mirip maksudnya.

Maka pada tahun 1914, para ahli mulai berfikir untuk menyederhanakan jenis penelitian tersebut menjadi 4 kelompok penelitian yaitu:
  1. Metode ekperimen
  2. Metode sejarah
  3. Metode deskriptif
  4. Metode kuestioner

Kemudian berkisar tahun 1932 sampai 1938, metode penelitian dikelompokkan menjadi 4 jenis berikut ini:
  1. Metode eksperimen
  2. Metode sejarah
  3. Metode deskriptif
  4. Metode filsafat

Balakangan ini, dasar penelitian dikelompokkan pada beberapa hal berikut ini:
  • Sifat atau karakter msalah
  • Lokasi penelitian
  • Waktu penelitian
  • Bidang keilmuan untuk mendukung penelitian

Ok, kita langsung saja bahas, apa-apa saja metode penelitian yang digunakan hingga saat ini?

A. Metode Sejarah

Sejarah adalah suatu pengetahuan yang tepat terhadap tragedi atau kejadian yang telah terjadi. Beberapa ciri dari metode sejarah adalah:
  • Metode sejarah lebih banyak bersandar pada data yang telah diamati orang lain terlebih dahulu
  • Data yang digunakan berasal dari bahan acuan yang tidak standar
  • Data yang digunakan lebih banyak bergantung pada data primer sedangkan perlu penentuan bobotnya harus dikritik secara internal dan eksternal
  • Sumber data dinyatakan secara definitif meliputi nama pengarang, tempat tinggal dan waktu

Pada saat anda hendak melakukan penelitian tentang sejarah, beberapa sumber data yang bisa anda ambil adalah dengan beberapa cara berikut ini:
  1. Remain dan dokumen. Remain atau sering disebut sebagai relics adalah bahan fisis atau tulisan yang memiliki nilai bersejarah seperti alat perkakas, perhiasan kuno, bangunan (seperti piramida), candi, senjata, sendok, benda budaya dan lain-lain. Sedangkan dokumen adalah laporan atau hasil tulisan dari pandangan serta pikiran manusia pada masa yang lampau. Sebagai contohnya adalah batu tulis, daun-daun lontar, relief pada candi, surat kabar dan lain-lain.
  2. Sumber primer dan sekunder. Sumber data primer merupakan suatu sumber yang memuat sumber dasar yang bersifat orisinil dari data sejarah. Contoh sumber data primer dalam penelitian sejarah adalah catatan resmi yang dibuat pada saat acara atau upacara, keterangan dari saksi mata, keputusan rapat, foto, dan lain-lain. Sedangkan sumber sekunder adalah catatan dari sumber peristiwa yang jarak waktunya cukup lama dari sumber orisinilnya.

Dalam melakukan penelitian sejarah, setelah anda menentukan atau mendapatkan data dari berbagai sumber, apakah itu dari remain atau sumber primer atau sekunder. Maka yang perlu diperhatikan adalah validitas data yang dihasilkan. Oleh sebab itu diperlukan kritik secara internal maupun eksternal agar dapat dipastikan bahwa data yang dihasilkan telah berasal dari sumber yang orisinil.

Ada beberapa peneliti menganggap bahwa adalam metode sejarah tidak diperlukan hipotesa. Hal ini emang benar namun dalam penjelasan yang lebih detail hipotesa diperlukan. Adapaun maksud dan tujuan kita menggunakan hipotesa dalam penelitian sejarah adalah untuk mempermudah pekerjaan dalam menentukan kesimpulan.

B. Metode Deskriptif atau Survey

Definisi metode penelitian secara deskriptif sangat beragam menurut para ahli, menurut Nazir tahun 1985 metode deskriptif adalah suatu metode untuk meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada manusia saat ini.

Adapun tujuan penggunaan metode deskriptif adalah membuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat hubungan antar fenometa yang diselidiki.

Berikut ini beberapa ciri-ciri metode penelitian secara deskriptif yaitu
  • Data terdiri dari akumulasi data dasar
  • Mencakup metode penelitian yang lebih luas dari metode sejarah dan ekperimental
  • Secara umum sering diberi nama tertentu seperti metode survey
  • Menerangkan hubungan antar parameter atau varasi
  • Menguji hipotesa
  • Membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan.
  • Pada saat mengumpulkan data, biasanya menggunakan teknik wawancara mendalam menggunakan kuisioner ataupun pentunjuk interview.
Jenis penelitian secara deskriptif sangat beragam hal ini tergantung pada teknik dan alat yang digunakan, tempan serta waktu penelitian. Beberapa jenis penelitian deskriptif yang sering dilakukan oleh para penelitia, menggunakan beberapa metode berikut ini:
  1. Metode survey yaitu penyelidikan terhadap suatu fakta di lapangan dari gejala yang ada serta mencari keterangan secara faktual dari sumber primer.
  2. Metode deskriptif yang berkesinambungan yaitu penelitian secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus terhadap suatu objek penelitian. Penelitian ini sering kali digunakan untuk meneliti masalah sosial.
  3. Penelitian studi kasus yaitu penelitian terhadap suatu objek yang berhubungan atau berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitasnya. Subjek dalam melakukan penelitian ini bisa berupa individu, kelompok, lembaga ataupun masyarakat.
  4. Penelitian analisa pekerjaan dan aktivitas yaitu penelitian yang ditujukan untuk menyelidiki secara detail terhadap pekerjaan dan aktivitas manusia. Hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi untuk keperluan di masa mendatang.
  5. Penelitian tindakan
  6. Penelitian dokumenter atau studi pustaka.

C. Metode Eksperimen

Metode eksperimen adalah suatu metode di dalam melaksanakan penelitian untuk menggali secara mendalam dan biasanya digunakan dalam bidang eksakta. Metode eksperimen pertama kali dilakukan oleh seorang navigator berkebangsaan Inggris yaitu Sir Humprey Gilbert pada tahun 1539-1583 serta seorang dokter dan ahli binatang dari Italia yakni Galileo Galilei pada tahun 1564-1642.

Definisi Eksperimen

Berdasarkan definisinya, eksperimen adalam observasi mendalam terhadap suatu kondisi buatan yang di atur pada kondisi tertentu oleh si peneliti. Sehingga penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai penelitian yang dilakukan dengan cara memanipulasi objek penelitian dan melibatkan kontrol.

Kontrol yang dimaksud adalah objek penelitian yang dibiarkan berproses tanpa adanya manipulasi. Sehingga pengaruh dari manipulasi dapat diidentifikasi dan di analisis.

Selengkapnya tentang Metode Eksperimen

D. Metode Grounded Research

Grounded research adalah sesuatu riset yang mendasarkan diri pada fakta serta menggunakan analisis perbandingan dengan tujuan untuk generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori, dan mengembangkan teori.

Para peneliti sering menggunakan grounded research dengan metode studi perbandingan yang dikerjakan untuk memverifikasi teori yang sedang berlangsung serta menentukan seberapa jauh gejala umum berlaku. 

E. Metode Penelitian Tindakan

Metode penelitian tindakan adalah suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama antara peneliti dan decision maker tentang variabel  yang dapat dimanipulasi dan dapat segera digunakan untuk menentukan kebijakan dan pembangunan.

Ciri utama action research adalah memperoleh penemuan yang signifikan secara operasional sehingga dapat digunakan ketika kebijakan tersebut dapat dilaksanakan.

Demikianlah ulasan singkat mengenai metode penelitian yang bisa diberikan, apabila terdapat ulasan yang kurang mendalam maka maafkanlah kami, hehehe. Semoga informasi ini bisa memberikan manfaat. Terimakasih

Senin, 10 Agustus 2020

Penyimpanan Bahan Kimia di Laboratorium: Mengapa Perlu di Manajemen Dengan Baik?

Penyimpanan Bahan Kimia di Laboratorium: Mengapa Perlu di Manajemen Dengan Baik?

penyimpanan bahan kimia

Penyimpanan Bahan Kimia merupakan kegiatan yang perlu dimanajemen dengan baik karena bahan kimia itu sendiri memiliki dampak yang cukup serius apabila salah dalam menanganinya. Artikel kali ini, kami coba mengulas mengenai cara penyimpanan bahan kimia yang baik agar kualitasnya tidak menurun serta tidak menimbulkan bahaya bagi lingkungan sekitar.

Mengapa Kita Perlu Mengidentifikasi Bahan Kimia?

Ada pertanya yang sering muncul dan perlu kita sikapi bersama yaitu mengapa kita perlu menjaga dan memisahkan bahan kimia yang tidak kompetibel?

Tentunya hal itu disebabkan oleh beberapa bahan kimia berbahaya, dapat bereaksi satu sama lain sehingga menghailkan senyawa ataupun gas yang bersifat sangat berbahaya. Bahkan karenanya dapat menyebabkan kebakaran atau ledakan seperti halnya yang pernah terjadi di Lebanon beberapa saat yang lalu. Selain itu juga dapat menimbulkan kerusakan lingkungan yang cukup serius.

Merujuk dari permasalahan di atas, maka kita perlu mengidentifikasi sifat dari masing-masing bahan kimia yang ada di laboratorium.

Bagaimana Cara Mengetahui Bahan Kimia Yang Tidak Kompetibel?

Hal pertama yang bisa kamu lakukan agar dapat mengetahui sifat dan karakteristik dari bahan kimia yang terdapat di laboratorium yaitu mencari dokumen Lembar Data Keselamatan atau dalam bahasa Inggris yaitu Material Safety Data Sheet (MSDS). Dokumen ini dapat anda peroleh dari setiap produsen bahan kimia yang anda miliki.

Misalnya anda memiliki zat Ammonium Nitrate yang diproduksi oleh Merck, maka hal yang harus saudara lakukan adalah membuka situs resmi Merck

Selanjutnya silahkan masukkan Catalog Number dari bahan kimia yang ingin anda ketahui MSDS nya. Setelah anda mendapatkannya silahkan baca secara seksama mengenai sifat bahan kimia serta peringatan bahayanya.

Berikut ini contoh dari dokumen MSDS suatu bahan kimia yang di produksi oleh Merck.
contoh msds merck

Panduan Penyimpanan Bahan Kimia

Berikut ini terdapat prosedur penyimpanan bahan kimia yang bisa anda terapkan di laboratorium yaitu:
  1. Sediakanlah tempah khusus untuk menyimpan bahan kimia dan kembalikan lagi bahan kimia ke tempat tersebut jika telah digunakan
  2. Simpan bahan kimia atau peralatan yang rutin digunakan untuk mengambil bahan kimia di lemari khusus untuk menyimpan
  3. Pastikan rak yang di gunakan di dalam lemari tersebut memiliki dinding pembatas di bagian depan agar wadah tidak mudah terjatuh
  4. Jangan dan hindarilah menyimpan bahan kimia di atas kursi
  5. Setelah bahan kimia digunakan, segera kembalikan ke rak bahan kimia semula
  6. Jangan menyimpan bahan kimia pada suatu rak yang tingginya lebih dari 1,5 meter.
  7. Hindari menyimpan bahan kimia atau benda yang lebih berat di atasnya. Maksudnya adalah bahan atau benda yang lebih berat posisikan lebih di rak bawah.
  8. Beri label yang tepat dan jelas pada setiap wadah bahan kimia, sertakan tanggal pembelian, penanggung jawab dan sebagainya.
  9. Simpan bahan kimia yang mudah terbakar di rak yang khusus untuk bahan kimia mudah terbakar pula.
  10. Hindari menyimpan bahan kimia yang bersifat reaktif dari sumber energi seperti hotplate atau sumber panas lainnya.
  11. Untuk memudahkan pencarian, simpan bahan kimia sesuai abjad dan golongan masing-masing bahan kimia
  12. Tetapkan personel penanggung jawab yang terdiri dari minimal 2 orang.

Wadah Bahan Kimia

Bahan kimia memerlukan wadah yang sesuai agar tidak terjadi reaksi antara zat yang ada di dalam wadah dengan material wadah. Oleh sebab itu kami mencoba untuk memberikan informasi menganai panduan wadah yang cocok untuk bahan kimia yaitu
  1. Ketika anda membuat suatu reagensia atau larutan standar, pastikan jenis bahan yang cocok seperti pada pengujian boron, maka reagen yang digunakan akan bereaksi dengan reagen tersebut karena reagen yang digunakan bersifat melarutkan boron pada borosilikat alat gelas
  2. Gunakan perangkat pengamanan sekunder seperti wadah pengaman
  3. gunakan baki penyimpanan yang tahan terhadap korosifitas untuk mengantisipasi adanya kebocoran, tumpahan, tetesan dan sebagainya.
  4. Sediakan lemari benventilasi di bawah tudung asap kimia apabila anda menyimpan bahan kimia berbahaya.
  5. Beri segel tambahan pada wadah untuk menghindari uap yang korosif, mudah terbakar atau beracun

Penyimpana Cairan yang Mudah Terbakar dan Mudah Menyala

Rata-rata cairan yang mudah terbakar dan menguap adalah tergolong pada senyawa organik seperti alkohol, n-hexane, benzene, toluen, aseton dan lain-lain. Sehingga diperlukan penyimpanan yang tepat agar tidak menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan, lingkungan dan aset.

Ketika kita menggunakan senyawa atau zat kimia yang mudah terbakar, tentunya harus disesuaikan dengan jumlah kebutuhan dan fasilitas laboratorium. Perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam mengenai persyaratan fasilitas yang diperlukan apabila ada parameter uji yang menggunakan bahan kimia mudah terbakar. Berikut ini faktor-faktor yang mungkin bisa dijadikan sebagai dasar evaluasinya yaitu:
  1. Perhatikan konstruksi laboratorium
  2. Jumlah zona api yang berada di dalam gedung
  3. Tingkat lantai tempat laboratorium berada
  4. Sistem perlindungan api yang dibangun di dalam laboratorium
  5. Terdapat lemari penyimpanan cairan yang mudah terbakar atau kaleng keselamatan
  6. Jenis laboratorium seperti apakah untuk pendidikan atau penelitian dan pengembangan.

Beberapa panduan yang mungkin bisa menjadi guidance bagi anda yang ingin menggunakan dan menyimpan bahan kimia yang bersifat mudah terbakar:
  1. Jika memungkinkan simpan cairan yang mudah terbakar di dalam lemari penyimpanan khusus yang terbuat dari logam yang dilapisi oleh cat khusus (jangan gunakan lemari yang menggunakan bahan seperti kayu atau plastik)
  2. Simpan cairan di dalam wadah aslinya atau wadah yang cocok dan disetujui.
  3. Apabila cairan mudah terbakar volumenya banyak yaitu berkisar 200 an liter (drum) maka simpan di ruang khusus dan pastikan tidak ada sumber-sumber yang mudah menyala seperti percikan api, sumber panas atau percikan listrik.
  4. Jauhkan pula zat mudah terbakar dari zat yang bersifat oksidasi kuat seperti asam nitrat, chromate, permanganan, klorat, perklorat dan peroxide.

Bagaimana? sudah cukup jelas bukan mengenai penjelasan yang bisa kami berikan tentang penyimpanan bahan kimia. Semoga informasi ini bisa memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih

Jumat, 07 Agustus 2020

CARA MENGHITUNG KOEFISIEN KORELASI MUDAH DAN SIMPEL

CARA MENGHITUNG KOEFISIEN KORELASI MUDAH DAN SIMPEL


cara menghitung koefisien korelasi

Cara Menghitung Koefisien Korelasi merupakan hal yang harus kamu ketahui, mengapa demikian? karena hampir setiap kegiatan penelitian yang berhubungan dengan sebab akibat akan menggunakan koefisien korelasi untuk menentukan hubungan antar variabel.

Pengertian Koefisien Korelasi

Koefisien korelasi sering kali disimbolkan dengan notasi "r" yaitu ukuran korelasi linear antara dua variable. Koefisien korelasi (r) dapat dihitung dari data yang sama digunakan untuk menghasilkan persamaan garis lurus (y = ax + b). Nilai koefisien korelasi (r) memperkirakan kelinieran sebenarnya dari data asli.

Disisi lain r memperkirakan seberapa besar hubungan dari persamaan garis lurus (atau regresi linier) serta mewakili titik data yang tersebar berdasarkanplot data pada grup X dan Y. Dalam praktiknya, nilai r berkisar -1,0000 sampai +1,0000 tergantung dari arah garis regresinya.

Apabila nilai r +1,0000, hal itu berarti menunjukkan titik data yang memiliki hubungan linier sempurna dan garis memiliki kemiringan positif. Hal ini menandakan bahwa seiring dengan meningkatnya konsentrasi sampel (X) maka nilai absorbansi sampel (Y) juga semakin meningkat.

Jika nilai r -1,0000 maka hal ini menunjukkan titik bahwa data memiliki hubungan linier sempurna dan garis memiliki kemiringan negatif. Hal ini biasanya terjadi karena adanya hubungan yang berbanding terbalik. Pada ilustasi berikut ini dapat kita lihat bahwa nilai r+1 arah garis menaik dan sebaliknya.

garis koefisien korelasi
Ilustasi garis regresi sesuai dengan nilai r


Menghitung Koefisien Korelasi (r)


Setelah kita mengulas pengertian koefisien korelasi maka tahap selanjutnya adalah bagaimana cara menghitung koefisien korelasi yang benar?

Seperti halnya perhitungan regresi linier, menghitung koefisien korelasi atau nilai r menggunakan rumus sebagai berikut:

rumus koefisien korelasi
Rumus koefisien korelasi

Contoh Perhitungan Koefisien Korelasi

Pada tabel berikut ini, anda akan dibimbing bagaimana cara menghitung koefisien korelasi yang mudah dan simpel namun tetap memiliki kebenaran yang baik.
contoh perhitungan koefisien korelasi


Berikut ini tahapan yang harus saudara ikuti agar lebih mudah dalam menghitungnya:
  1. Hitung nilai rata-rata (mean) x̄, dengan cara menjumlahkan seluruh nilai x, kemudian membaginya dengan jumlah data.
  2. Hitung nilai rata-rata (mean) ȳ, dengan cara menjumlahkan seluruh nilai y, kemudian membaginya dengan jumlah data.
  3. Hitung kuadrat dari (x - x̄) dan jumlah kuadratnya
  4. Hitung kuadrat dari (y - ȳ) dan jumlah kuadratnya
  5. Hitung jumlah (x - x̄) (y - ȳ)
  6. Masukkan ke dalam rumus koefisien korelasi;


Menghitung Koefisien Korelasi dengan Excel

Selain menggunakan rumus di atas, anda juga bisa menghitung koefisien korelasi secara otomatis menggunakan aplikasi Microsoft Excel. berikut ini tahapan yang harus kamu lakukan:
  1. Input data yang akan anda hitung nilai koefisien korelasinya (contoh pada gambar di bawah ini)
  2. Setelah data yang ingin anda hitung telah terinput semua maka posisikan kursor pada salah satu cell excel.
  3. Kemudian ketik =CORREL(sorot data yang akan dihitung)
menghitung koefisien korelasi di excel

Nah, inilah artikel dari kami yang dikuti dari sampling-analis.com, sangat mudah bukan? Coba praktekkan sendiri untuk lebih memaksimalkan pemahaman saudara sekalian. Semoga artikel ini memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih.
Perbedaan AAS dan ICP untuk Analisa Logam

Perbedaan AAS dan ICP untuk Analisa Logam

perbedaan aas dan icp

AAS dan ICP merupakan instrumentasi kimia yang sering kali digunakan untuk mendeteksi adanya logam di dalam suatu larutan. Prinsip dari kedua alat ini hampir sama yaitu memanfaatkan sistem pembakaran untuk merubah unsur logam menjadi keadaan tereksitasi. Pada saat kondisi tereksitasi tersebut, logam akan menghasilkan energi.

Energi yang dihasilkan tersebut kemudian dideteksi oleh suatu detektor yang sesuai dengan panjang gelombang masing-masing logam yang tereksitasi. Nah perbedaannya terletak pada sistem pendeteksiannya.

Jika menggunakan AAS maka atom akan terbakar di burner, kemudian pada saat logam tersebut terbakar maka lampu Hollow Cathode Lamp (HCL) akan memancarkan energi, kemudian energi tersebut akan diserap oleh atom. Selisih energi yang diserap akan dikonversi ke dalam bentuk absorbansi pada instrumen.

Namun hal yang berbeda terjadi pada instrumen ICP yaitu ketika suatu logam dibakar di atas tungku (burner) maka api tersebut akan memancarkan emisi. Kemudian emisi tersebut diterima oleh detektor berupa plasma.

Sehingga dari ulasan singkat diatas dapat kita simpulkan bahwa instrumen ICP lebih luas cakupan deteksinya yakni hampir semua unsur dalam tabel periodik unsur karena pendeteksian menggunakan plasma

Sedangkan AAS memiliki keterbatasan yaitu HCL yang digunakan dan burner. Setiap logam harus disesuaikan lampu deteksinya serta burner yang digunakan harus tepat karena jika tidak maka proses pendeteksian logam akan terhambat dan menghasilkan error yang besar.

Bagi anda yang saat ini bergelut dibidang analisis logam, sangat penting untuk mengetahui pemilihan instrumen yang cocok digunakan di laboratorium saudara. Karena hal ini harus disesuaikan dengan rentang ukur, biaya investasi, waktu analisis, fasilitas laboratorium dan kompetensi personel yang mengoperasikan.

Dilansir dari sampling-analisis.com (2016) terdapat beberapa keuntungan dan kerugian dari masing-masing jenis instrumentasi kimia tersebut. Perbandingan didasarkan pada burner yang digunakan.

Pada AAS, terdapat 2 sistem pembakaran yaitu Flame Atomic Absorption Spectrometry (FAAS) dan
Graphite Furnace Atomic Absorption Spectrometry (GFAAS). Berikut ini perbandingan kelebihan dan kekurangan pada sistem FAAS yaitu:


Kelebihan

Kekurangan

Mudah digunakan
Sangat cepat
Biaya modal terendah 
Relatif sedikit gangguan
Instrumen yang sangat ringkas
Kinerja yang baik


• Limit deteksi sedang
Keterbatasan unsur logam yang dapat dideteksi
• 1-10 elemen per penentuan
Tidak memiliki kemampuan screening

Kemudian berikut ini perbandingan keuntungan dan kerugian pada AAS yang menggunakan sistem pembakaran
Graphite Furnace Atomic Absorption Spectrometry (GFAAS) yaitu:

Kelebihan
Kekurangan

• Batas deteksi yang sangat baik
Membutuhkan sedikit sampel
Harga relatif rendah
Instrumen yang sangat ringkas
Gangguan spektral sedikit

Waktu analisis lambat
Mudah mengalami gangguan kimia
Keterbatasan unsur logam yang dapat dideteksi
• 1-6 elemen per penentuan
Tidak memiliki kemampuan screening
• Dynamic rangeterbatas


Nah, akhirnya sampai juga terhadap perbandingan antara keuntungan dan kekurangan jika rekan rekan sekalian menggunakan ICP yang kami sajikan pada tabel berikut ini:

Kelebihan
Kekurangan

Mudah digunakan
• Multi-elemen
Produktivitas tinggi
Sangat ekonomis untuk banyak sampel dan / atau unsur logam
Gangguan kimia sedikit
Kemampuan screeningyang sangat baik
Dapat menganalisa sampel dengan kadar total padatan terlarut tinggi
Dapat menganalisa sampel padat dan organic


• Batas deteksi rendah hingga sedang (tetapi sering jauh lebih baik dari FAAS)
kemungkinan mudah mengalami gangguan spektral
Memiliki keterbatasan terhadap beberapa jenis elemen / unsur logam

Sebagai informasi tambahan bahwa hingga saat ini, yakni dengan semakin berkembangnya ilmu terapan maka ICP telah dikombinasikan dengan sistem deteksi menggunakan Mass Spectrometer (ICP-MS). Tentunya semakin kompleks suatu instrumen harganya juga akan semakin mahal. Namun ada perkataan yang mengatakan bahwa "Ada harga maka ada kualitas" sehingga sesuai fungsinya maka harga unit ICP-MS ini bisa mencapai 5 Milyar rupiah.


Wah sudah bisa buka lab baru ya?hehehe...

Ok langsung saja kita bahas, apa saja keuntungan dan kerugian dari instrumen ICP-MS ini, yuk kita simak tabel berikut ini:

Kelebihan
Kekurangan

• Batas deteksi yang sangat baik
• Multi-elemen
Produktivitas tinggi
Sangat ekonomis untuk banyak sampel dan / atau elemen
• Dynamic rangeluas
Dapat digunakan untuk pengukuran isotop
Kemampuan screening semikuantitatif yang cepat
Spektral mudah ditafsirkan


Membutuhkan keterampilan pengembangan metode
Biaya modal awal yang lebih tinggi
Dapat mengalami beberapa gangguan spektral, tetapi dapat didefinisikan dengan baik
• T erbatas untuk sample dengan kadar total padatan terlarut <0,2%

Baiklah teman-teman, setelah anda mengetahui apa saja keuntungan dan kerugian antara aas dan icp maka saya coba memerikan informasi mengenai batas deteksi dari masing-masing instrumen ini. ICP-MS menghasilkan batas deteksi terbaik (biasanya 1-10 ppt), diikuti oleh GFAAS, (biasanya di kisaran sub-ppb) selanjutnya ICP-AES (dari urutan 1-10 ppb) dan terakhir FAAS (di kisaran sub-ppm). Tabel di bawah menunjukkan rentang batas deteksi untuk masing-masing teknik.


Demikianlah informasi mengenai perbedaan aas dan icp yang telah diulas diatas, semoga informasi ini bisa memberikan manfaat. Intinya mau instrumen apapun yang kita gunakan jika tidak didukung dengan sumber daya (fasilitas, personel, bahan kimia dan lain-lain) yang kompeten dan sesuai maka hasilnya tetap tidak akan memuaskan. Sampai jumpa di artikel selanjutnya...

Kamis, 06 Agustus 2020

Cara Membuat Control Chart di Excel

Cara Membuat Control Chart di Excel

cara membuat control chart

Cara Membuat Control Chart di Excel - Halo Sobat Laboran, pada tahap ini saya ingin memberikan sedikit informasi yang cukup praktis tentang bagaimana membuat control chart atau sering disebut peta kendali.

Sebagai praktisi laboratorium, tentunya sobat sekalian membutuhkan program pengendalian mutu yang maksimal dalam rangka pemantauan kinerja laboratorium pada saat proses analisis di laboratorium.

Hal yang cukup membantu untuk menjamin pekerjaan kita masih sesuai dengan kriteria atau kebijakan yang ditetapkan adalah dengan cara mengembangkan peta kendali.

Peta kendali atau sering disebut control chart adalah suatu program yang digunakan untuk memantau jaminan mutu pengujian ataupun pekerjaan lain yang membutuhkan akurasi dan presisi.

Terdapat banyak bidang pekerjaan yang biasanya menggunakan diagram kendali ini seperti dibidang R & D, Lab Analitik, Produksi dan lain-lain.

Nah, langsung saja kita bahas satu per satu tentang cara membuat control chart menggunakan microsoft excel.

Pertama yang harus kamu lakukan adalah melakukan pengujian atau analisis parameter yang akan di pantau menggunakan peta kendali, kali ini kita anggap parameter analisis kandungan logam Magnesium pada sampel air pada salah satu WTP (Water Treatment Plant).

Sebelum masuk ke tahap pengujian, pastikan semua peralatan dan bahan kimia yang digunakan masih layak pakai dan instrumen yang digunakan masih dalam kondisi optimal.

Pengujian biasanya dilakukan minimal 7 kali ulangan pada waktu yang bersamaan, menggunakan instrumen yang sama dan bisa juga dilakukan oleh analis yang sama.

Saya beri contoh hasil dari analisis kandungan logam Magnesium yang diulang sebanyak 7 kali ulangan adalah 121.4, 121.7, 122.0, 121.9, 122.1, 121.8, 121.5 mg/L.

Setelah diperoleh data seperti contoh tersebut silahkan anda ketik pada microsoft excel angka tersebut seperti pada contoh gambar dibawah ini:

cara membuat control chart atau peta kendali

Perlu diperhatikan pada saat anda mengetik angka, cocokkan notasi koma yang sesuai, karena notasi tersebut bergantung pada program atau settingan pada microsoft excel anda. Nah, pada microsoft excel yang saya gunakan ini menggunakan notasi tanda Titik untuk menentukan koma.

Selanjutnya, hitung nilai rata-rata, dengan menggunakan rumus yang tertera pada microsoft excel, untuk lebih lengkapnya silahkan anda lihat Cara Menghitung Rata-rata di Excel.

Hasil perhitungan nilai rata-rata yang saya coba adalah seperti terlihat pada gambar berikut ini:


Berdasarkan hasil perhitungan yang saya lakukan, diperoleh nilai rata-rata kandungan Magnesium adalah 121.77 mg/L.

Nah, selanjutnya hitung nilai standar deviasinya dari sekumpuland ata tersebut. Untuk nilai standar deviasi yang saya hitung dapat anda lihat pada gambar berikut ini:



Hasil dari perhitungan yang saya lakukan, nilai standar deviasi (SD) yang diperoleh adalah 0.2563. Ops, maaf, jika anda ingin mengetahui bagaimana cara menentukan nilai standar deviasi menggunakan microsoft excel silahkan lihat Cara Menghitung Standar Deviasi di Excel.

Setelah kita mengetahui nilai rata-rata dan standar deviasi, maka berikutnya adalah menghitung batas-batas yang diatur oleh aturan Westgard. Selengkapnya mengenai aturan tersebut dapat anda baca disini Intepretasi Peta Kendali Menurut Aturan Westgard.

Baik langsung saja kita tentukan beberapa nilai yang harus ditetapkan, yaitu:

Hitung nilai 1 x SD;2 x SD dan 3 x SD.

1SD = 1 x 0.2563 = 0.2563
2SD = 2 x 0.2563 = 0.5126
3SD = 3 x 0.2563 = 0.7689

Okay, berikutnya kita tentukan batas-batas yang ditentukan menurut aturan Westgard yaitu:

UCL = Upper Control Limit = Rata-rata + 3SD
UWL = Upper Warning Limit = Rata-rata + 2SD
LWL = Lower Warning Limit = Rata-rata - 2SD
LCL = Lower Control Limit = Rata-rata - 3SD

Selanjutnya mari kita tentukan nilai-nilai tersebut:

UCL = 121.77 + 0.7689 = 122.539
UWL = 121.77 + 0.5126 = 122.283
+1SD = 121.77 + 0.2563 = 122.026
-1SD = 121.77 - 0.2563 = 121.514
LWL = 121.77 - 0.5126 = 121.257
LCL = 121.77 - 0.7689 = 121.001

Berdasarkan dari data-data yang kita hitung diatas maka berikutnya kita buat control chartnya sesuai dengan data yang diperoleh tersebut di atas.

Sekarang silahkan ketik atau copy paste nilai yang kita peroleh tersebut ke dalam sheet excel yang baru seperti pada gambar berikut ini:


Agar grafik control chart terbentuk, silahkan copy and paste data-data tersebut hingga berkisar 100 data. Jika anda bingung seperti apa, berikut saya berikan contoh pada gambar.


Setelah terbentuk datanya, silahkan buat grafik dengan cara (bersambung)

Rabu, 05 Agustus 2020

ADISI STANDAR : Cara Menghitung dan Membuatnya

ADISI STANDAR : Cara Menghitung dan Membuatnya


Adisi Standar - Metoda adisi standar adalah suatu teknik untuk meminimalisasi error dalam proses preparasi dan pengujian sampel dengan cara menambahkan standar yang telah diketahui nilainya. Teknik ini telah lama digunakan untuk dapat mengetahui pengaruh dari matrik dan pelarut yang digunakan.

Artikel ini akan membahas cara menghitung standar adisi menggunakan Microsoft Excel. Biasanya metoda adisi standar digunakan untuk menghilangkan gangguan matriks pada saat proses preparasi dan pengujian sampel.

Ada beberapa persyaratan untuk penerapan metode standar adisi;
  1. Standar harus cukup pekat, sehingga volume standar yang ditambahkan sedikit dibandingkan dengan larutan sampel agar matriks sampel tidak banyak berubah
  2. Standar yang ditambahkan harus dapat meningkatkan sinyal analitis dengan faktor 1.5 sampai 3
  3. Linearitas dan homogenitas varians harus ada pada rentang kerja.

Prosedur standar аdіѕі mеlіbаtkаn pembuatan bеbеrара lаrutаn уаng mengandung ѕаmреl уаng tіdаk dіkеtаhuі kadarnya, kemudian ditambahkan ѕtаndаr (yang dіkеtаhuі kadarnya) dеngаn vоlumе bеrbеdа.

Mіѕаlnуа, lima lаbu ukur 100 mL mаѕіng-mаѕіng dііѕі dеngаn 80 mL ѕаmреl, kemudian dіtаmbаhkаn standar dalam jumlаh уаng berbeda, ѕереrtі 0, 4, 8, 12 dаn 16 mL. Lаbu ukur kеmudіаn dіtеrа mеnggunаkаn аіr dеmіn dаn dіаduk hingga hоmоgеn, lalu dіukur mеnggunаkаn іnѕtrumеnt lаb.Pаdа contoh dі bаwаh, ѕtаndаr yang dіgunаkаn (Cѕtd) memiliki kоnѕеntrаѕі 4 mg/L

Contoh Perhitungan


Berikut ini cara menghitung Standar Adisi menggunakan excel;

1. Buka program excel

2. Input parameter sebagai berikut;
• Konsentrasi standar (Cstd) yang digunakan pada sel C5

• Jumlah volume sampel (Vunk) pada sel C6

• Labu ukur (Vflask) yang digunakan pada sel C7

• Volume standar yang ditambahkan pada sel B10 – B14

3. Pada sel C10, masukkan formula =($C$5*B10)/$C$7 untuk menghitung Csa, sesuai rumus di bawah;


4. Letakkan kursor pada sel C10, sehingga muncul tanda plus (+) pada ujung kanan bawah, kemudian roll kursor ke bawah sampai sel C14, sehingga didapat hasil copy formula sebagai berikut;

5. Masukkan respon alat pada sel D10 – D14


6. Hitung slope, intercept, dan X-intercept dengan formula sesuai gambar di bawah


7. Buat kurva hubungan antara Csa dengan respon alat dengan cara sebagai berikut;
a. Kita perlu menambahkan satu data saat y=0, maka ketik formula =C18 pada sel C15 dan ketik 0 pada sel D15

b. Tempatkan kursor pada sel C10 – D15

c. Klik menu insert, Charts, pilih Scatter


d. pilih Scatter with Straight Lines and Markers

e. Sehingga muncul grafik seperti di bawah

f. Lakukan pengaturan pada sumbu X dan Y, sehingga diperoleh kurva cantik seperti di bawah, perpotongan garis kurva dengan sumbu X adalah konsentrasi sampel yang terbaca di alat (belum dikalikan faktor pengenceran)

8. Hitung konsentrasi sampel (C0) sesuai formula di bawah;


Jadi, konsentrasi analit di dalam sampel adalah 0.4889 mg/L

Nah, bagaimana mudah bukan? cara menghitung berapa konsentrasi standar yang diperlukan agar sesuai dengan konsentrasi analit yang terkandung di dalam sampel. Demikian informasi ini kami sampaikan, semoga bermanfaat Terimakasih.

Selasa, 04 Agustus 2020

Cara Menghitung Confidence Interval (CI) (Interval Kepercayaan)

Cara Menghitung Confidence Interval (CI) (Interval Kepercayaan)


conficence interval
Confidence Interval adalah sesuatu parameter yang digunakan untuk menentukan keakuratan Mean suatu sampel. Ketika kita melakukan sejumlah pengukuran pada sebuah sampel dan menghitung nilai rata-rata pengukuran tersebut, kita dapat memperkirakan nilai aktual untuk pengukuran tersebut.

Meskipun nilai rata-rata ini merupakan perkiraan terbaik dari nilai sebenarnya, namun ini tetap hanya perkiraan. Kita dapat melakukan perhitungan Confidence Interval (interval kepercayaan) pengukuran ini untuk mengekspresikan ketepatan perkiraan pengukuran kita.


Menghitung confidence limit

Jika kita mengetahui , S_, dan df (degree of freedom = derajat kebebasan), kita dapat menghitung batas kepercayaan (confidence limit) atas dan bawah dan menentukan confidence interval .

Contoh perhitungan:

Dua puluh pengukuran COD dilakukan pada sebuah sampel yang memberikan nilai konsentrasi berikut: 120, 102, 94, 129, 111, 91, 139, 146, 136, 96, 125, 131, 121, 113, 143, 132, 138, 143, 123, dan 138 mg/L.

cara menghitung confidence interval


Langkah-langkah menghitung confidence interval adalah sebagai berikut;

1. Hitung nilai rata-rata () dengan menambahkan semua pengukuran dan membagi dengan 20 (n).

2. Hitung standar deviasi dengan formula sebagai berikut;

Standar deviasi untuk contoh ini adalah 17,3 mg / L dan ukuran sampelnya adalah 20.

3. Hitung standar error S_. Nilai ini adalah standar deviasi dibagi dengan akar kuadrat dari jumlah pengukuran [s/(√(n ))]. Oleh karena itu, standar error adalah:


4. Tentukan tingkat kepercayaan

Tingkat kepercayaan yang paling umum digunakan adalah 90 persen, 95 persen dan 99 persen. Misal, kita memilih 95%.

5. Hitung nilai t kritis

Nilai t kritis untuk batas keyakinan 95% untuk uji dua sisi (two-tailed) dengan df =19 (t 0,05, 19). Nilai t kritis adalah 2.093

Degree of freedom atau derajat kebebasan untuk contoh ini adalah:

df = n - 1
df = 20 – 1
df = 19

6. Hitung confidence limit (batas kepercayaan)

Sekarang kita bisa menghitung confidence interval (interval kepercayaan) 95% untuk 20 pengukuran ini dengan data-data di atas. Dengan menggunakan = 123,6 mg / L, S_ = 3,87 mg / L, dan df = 19, kita hitung confidence limit (batas kepercayaan) sebagai:


Oleh karena itu, kita dapat menyatakan bahwa kita 95% yakin bahwa rata-rata pengukuran COD untuk sampel ini akan berada antara 115,5 mg / L dan 131,7 mg / L.

Demikianlah informasi mengenai cara menentukan confidence interval, semoga informasi ini bermanfaat. Terimakasih

Minggu, 12 Juli 2020

Tindakan Korektif dan Tindakan Perbaikan Dalam ISO/IEC 17025: 2017

Tindakan Korektif dan Tindakan Perbaikan Dalam ISO/IEC 17025: 2017

tindakan korektif adalah

Tindakan Korektif adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk meniadakan faktor penyebab atau akar masalah ketidaksesuaian sistem manajemen mutu laboratorium yang terdeteksi atau teridentifikasi. Tindakan koreksi juga dapat dikatakan sebagai langkah yang harus dilakukan agar penyebab ketidaksesuaian dapat dihilangkan dan diharapkan tidak terjadi lagi dimasa mendatang.

Selain itu di dalam iso 17025 juga terdapat istilah Tindakan Perbaikan yaitu suatu tindakan yang dilakukan untuk menyelesaikan secara langsung ketidaksesuaian yang ditemukan. Jika sekilas dibaca tentukan rekan-rekan akan mengalami kebingungan dan akan muncul suatu pertanyaan, "Lalu apa perbendaan tindakan korektif (TK) dengan tindakan perbaikan (TP)?

Baik, saya akan menjelaskannya.

TK digunakan untuk menyelesaikan akar penyebab masalah yang ditemukan dari analisis penyebab masalah dan diharapkan bahwa TK yang dilakukan tidak akan menyebabkan ketidaksesuaian itu terulang kembali dimasa mendatang.

Sedangkan TP digunakan untuk menyelesaikan ketidaksesuaian secara langsung. Contoh kasus seperti ini:

Ketika Auditor melakukan kegiatan audit internal ditemukan ketidaksesuaian bahwa Analis lupa menyertakan replikasi sampel atau duplo pada saat proses pengujian parameter yang masuk kedalam ruang lingkup akreditasi. Berdasarkan hasil analisis masalah bahwa akar penyebab masalah adalah analis tersebut merupakan analis baru yang belum pernah mendapatkan pelatihan Pemantauan Keabsahan Hasil Pengujian.

Nah, berdasarkan hasil analisis masalah dan akar masalah dapat dilakukan TK dan TP.

Untuk TP yang dilakukan adalah:
  1. Melakukan pengujian ulang dengan menyertakan sampel replikasi atau duplo terhadap proses pengujian.

Sedangkan untuk TK adalah bisa saja:
  1. Mengadakan pelatihan analis baru yang diberi materi oleh Supervisor atau Analis Senior
  2. Membuat prosedur untuk menjamin kompetensi analis
  3. Membuat suatu bacaan atau sign yang ditempel di dinding ruang penimbangan agar analis yang  bekerja selalu ingat untuk menyertakan sampel replikasi atau duplo.

Saya harap setelah saya menjelaskan mengenai tindakan korektif dan tindakan perbaikan maka rekan-rekan sekalian akan semakin paham mengenai fungsi dan definisi dari kegiatan tersebut. Berikutnya tentunya kita harus tau dari mana rujukan untuk kita melakukan TK dan TP? Nah, disini saya akan menjelaskan bahwa TK dan TP merupakan syarat dari ISO/IEC 17025: 2017 klausul 8.7.

Adapun isi dari klausul tersebut adalah sebagai berikut:

8.7.1 Bіlа tеrjаdі kеtіdаkѕеѕuаіаn, maka laboratorium harus:
  1. Bereaksi terhadap ketidaksesuaian dаn, jіkа dараt diaplikasikan:
  • Mеngаmbіl tіndаkаn untuk mеngеndаlіkаn dаn mеmреrbаіkіnуа; 
  • Mengatasi konsekuensinya; 
  2. Mеngеvаluаѕі kebutuhan tіndаkаn untuk mеnghіlаngkаn реnуеbаb kеtіdаkѕеѕuаіаn, agar tіdаk tеrulаng аtаu tеrjаdі di tempat lаіn, dеngаn:
  • Meninjau dаn menganalisis kеtіdаkѕеѕuаіаn;
  • Menentukan реnуеbаb kеtіdаkѕеѕuаіаn;
  • Mеnеntukаn apakah kеtіdаkѕеѕuаіаn ѕеruра аdа, аtаu bеrроtеnѕі terjadi;
  3. Melaksanakan tindakan yang dibutuhkan;
  4. Meninjau keefektifan tіndаkаn kоrеktіf yang dіаmbіl;
  5. Mеmреrbаruі rіѕіkо dan peluang уаng ditentukan selama реrеnсаnааn, jіkа реrlu;
  6. Mеmbuаt реrubаhаn pada sistem mаnаjеmеn, jіkа реrlu.

8.7.2 Tindakan korektif harus sesuai dengan dampak ketidaksesuaian yang dihadapi.

8.7.3 Laboratorium hаruѕ mеnуіmраn rеkаmаn ѕеbаgаі buktі:

  1. Sіfаt kеtіdаkѕеѕuаіаn, ѕеbаb dan tіndаkаn selanjutnya уаng dіаmbіl;
  2. Hаѕіl tіndаkаn korektif.

Beberapa hal yang mungkin bisa menjadi masukan buat rekan-rekan sekalian adalah lakukan kaji ulang terhada semua prosedur dan rekaman yang berkaitan dengan penerapan tindak lanjut dari ketidaksesuaian yang teridentifikasi. Identifikasi dan kaji ulang tersebut dapat bersumber dari agenda audit internal dan eksternal atau asesmen dari Komite Akreditasi Nasional yang telah sesuai dalam menerapkan TK dan TP.

Baca Juga: Cara Analisis Penyebab Masalah Untuk Mengatasi Ketidaksesuaian dan membuat TP dan TK

Selain itu anda juga perlu menjelaskan mekanisme laboratorium untuk melakukan TK dan TP yang berkaitan dengan ketidaksesuaian yang terjadi dalam operasional laboratorium.

Jangan lupa untuk selalu memastikan bahwa laboratorium telah memiliki mekanisme atau prosedur dalam melakukan TP agar ketidaksesuaian yang sama tidak terjadi lagi.

Demikianlah artikel tentang Tindakan Korektif dan Tindakan Perbaikan yang saya sampaikan untuk memenuhi persyaratan sistem manajemen mutu ISO 17025 versi terbaru (2017). Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih

KLAUSUL SEBELUMNYA:

Peningkatan

KLAUSUL SELANJUTNYA:

Audit Internal

Untuk melihat artikel lengkap tentang iso 17025 silahkan kembali ke Home atau Beranda.

Sabtu, 11 Juli 2020

Alat Laboratorium Kimia Yang Perlu Di Kalibrasi

Alat Laboratorium Kimia Yang Perlu Di Kalibrasi

alat laboratorium kimia

Alat Laboratorium Kimia sangat beragam yang sering digunakan di laboratorium guna menunjang proses analisis yang akurat dan presisi. Dalam pemakaiannya, kita harus memastikan apakah alat tersebut mampu memberikan data hasil pengujian yang bersifat handal (akurat dan presisi). Oleh sebab itu, untuk memastikan kondisi alat tersebut maka harus dilakukan kalibrasi.

Kalibrasi alat laboratorium sangat penting dilakukan agar setiap pekerjaan memiliki ketertelusuran terhadap satuan internasional (SI). Di dalam ISO 17025 itu sendiri yang tercantum dalam klausul 6.4.6 dan 6.5.1 bahwa laboratorium harus menggunakan peralatan yang dikalibrasi.

Nah, tentunya kamu memiliki pertanyaan yaitu peralatan apa saja yang perlu dilakukan kalibrasi? Yuk kita simak ulasan berikut ini:

Jenis Alat Laboratorium Kimia Yang Harus Dikalibrasi

 

1. Neraca Analitik (Analytical Balance)

Neraca analitik adalah alat yang digunakan untuk menentukan atau mengetahui masa suatu zat. Alat ini memiliki beberapa nama yang sering digunakan oleh para analis di laboratorium yaitu analytical balance, neraca analitik, timbangan analitik, timbangan laboratorium dan timbangan gram halus.

Dari fungsinya tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa alat tersebut harus mampu memberikan masa suatu sampel yang mampu tertelusur hingga ke satuan internasional.

Kalibrasi neraca analitik bisa dilakukan minimal 1 kali per tahun atau maksimal per 2 tahun sekali. Pada saat melakukan kalibrasi timbangan analitik, yang perlu kamu perhatikan adalah status akreditasi laboratorium kalibrasi. Mengapa saya katakan demikian karena ini menyangkut sistem manajemen yang diterapkan oleh laboratorium.

Apabila suatu laboratorium telah terakreditasi, maka sudah jelas ia menerapkan sistem jaminan mutu yang baik sehingga kita bisa lebih yakin terhadap hasil kalibrasi neraca analitik tersebut.

2. Labu Ukur (Volumetric Flask)

Labu ukur adalah suatu alat gelas yang berfungsi untuk menakar suatu larutan pada saat melakukan pengenceran. Mengapa alat ini perlu dimasukkan ke dalam program kalibrasi peralatan?. Jelas karena alat ini masuk ke dalam faktor perhitungan kadar analit di dalam sampel yang kita analisis.

Sama halnya dengan timbangan analitik, volumetric flask ini juga harus dijadwalkan atau di agendakan dalam program kalibrasi peralatan.Mengapa alat ini perlu dikalibrasi secara rutin? Karena alat ini tergolong kedalam alat yang paling penting dalam proses pengujian terutama masuk ke dalam perhitungan karena menyangkut pada proses pengenceran.

Karena alat ini terbuat dari gelas silika, tentunya sangat berpengaruh terhadap perubahan suhu, ketika suhu larutan yang digunakan meningkat, tentunya akan terjadi pemuaian pada alat gelas tersebut dan sebaliknya ketika terjadi penurunan suhu maka akan terjadi penyusutan.

Sebagai informasi, apabila berdasarkan hasil evaluasi, ternyata alat ini sudah tidak sesuai lagi atau memiliki nilai ketidakpastian yang sangat besar, maka alat ini sebenarnya sudah tidak layak lagi digunakan.

3. Pipet Volumetrik (Volimetric Pipette)

Pipet volumetrik adalah peralatan gelas yang berfungsi untuk mengambil sejumlah (volume) larutan dengan volume yang bervariasi seperti 1 mL, 2 mL dan seterusnya. Pipet volumetrik sering digunakan oleh analis atau personel laboratorium untuk melakukan pengenceran sampel atau standar.

Mengingat fungsinya tersebut, tentunya alat ini masuk ke dalam sumber ketidakpastian pengukuran sehingga diperlukan suatu program kalibrasi untuk mengetahui nilai ketidakpastian yang sebenarnya. Sama halnya dengan labu volumetrik, pipet ini perlu dilakukan evaluasi apabila telah selesai di kalibrasi.

Apabila berdasarkan hasil evaluasi ternyata hasilnya telah menyimpang, maka ada dua hal yang perlu dilakukan untuk tetap menjamin bahwa hasil pengukuran yang dilakukan tetap valid yaitu:
  1. Tetap menggunakan pipet tersebut, tetapi sertakan nilai konversi dari volume yang sebenarnya.
  2. Menyingkirkan (tidak menggunakan lagi) pipet tersebut kemudian membeli yang baru dan di kalibrasi kembali.

Namun perlu diingat, dua hal yang saya sebutkan diatas dapat dilakukan setelah kita memastikan bahwa jasa laboratorium kalibrasi yang kita pilih telah menerapkan sistem manajemen mutu laboratorium berdasarkan ISO/IEC 17025: 2017.

4. Buret Kimia

Buret kimia adalah alat yang digunakan untuk menentukan kadar suatu analit di dalam sampel menggunakan menggunakan larutan standar atau pentiter yang telah diketahui secara pasti konsentrasinya. Buret yang biasa digunakan di laboratorium terdiri dari dua jenis yaitu buret digital  (elektrik) dan buret kaca (manual).

Kedua alat tersebut sama fungsinya namun berbeda cara penanganan dan pengoperasiannya. Apabila kita menggunakan buret kaca, hal yang perlu diperhatikan adalah ketelitian skala buret tersebut dan pastikan stop cock nya tidak bocor serta terbebas dari kontaminasi zat lain. Kemudian jika kita menggunakan buret digital, hal yang perlu diperhatikan adalah ketelitian pembacaan misalnya 0,01 mL. Kemudian yang perlu anda pastikan adalah daya baterai, karena jika dayanya  mulai menurun maka ketidakpastian akan semakin besar.
Dari penjelasan diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa alat ini sangat penting untuk dilakukan proses kalibrasi mengingat fungsinya sebagai penentu kadar dan masuk kedalam perhitungan. Sama halnya dengan peralatan lainnya, kalibrasi perlu dilakukan minimal 1 kali dalam setahun dan maksimal 2 tahun sekali. Namun apabila diperlukan, jadwal kalibrasi dapat dilakukan secara accidental yaitu apabila terdapat perlakuan yang tidak biasa sehingga menyebabkan peralatan tersebut perlu dikoreksi kembali.

5. Pipet Skala

Pipet skala adalah pipet volumetrik yang dapat digunakan untuk mengambil sejumlah larutan dengan volume yang berbeda-beda. Pipet ini biasanya digunakan untuk memipet deret larutan standar dalam menentukan kurva kalibrasi. Mungkin saat saya menulis tentang melakukan pemipetan untuk pembuatan deret larutan standar, pasti ada diantara rekan-rekan sekalian yang tidak setuju karena biasanya melakukan pemipetan untuk membuat larutan standar menggunakan pipet volumetrik atau pipet gondok.

Hal ini sebenarnya kembali kepada masing-masing individu, apabila menggunakan pipet skala tentunya kamu bisa mendapatkan variasi volume yang kamu inginkan misalnya 0,5; 1,0; 1,5; dan seterusnya. Terbayang bukan apabila kita menggunakan pipet volumetrik, pasti akan repot karena harus menyediakan lebih dari 1 ukuran pipet volumetrik.

Ditambah lagi apabila melakukan pemipetan dengan variasi volume yang menggunakan lebih dari 1 pipet maka akan menyumbang nilai ketidakpastian yang lebih banyak sehingga nilai regresi akan lebih rendah bisa saja hanya 0,991. Namun berdasarkan pengalaman yang saya lakukan, apabila melakukan pemipetan menggunakan pipet skala, R square yang bisa saya dapatkan bisa mencapai 0,9995 bahkan pernah sesekali mendapatkan 1,0000. Buat yang ragu silahkan coba sendiri namun pastikan bahwa kamu sudah tepat dan konsisten dalam menentukan posisi garis miniskus cairan pada saat pemipetan.

6. Oven Laboratorium

Oven laboratorium adalah peralatan yang digunakan untuk kegiatan pemanasan atau pengeringan. Mengapa alat ini perlu dilakukan kalibrasi? tentunya ada hal penting berdasarkan penggunaannya. Bagi suatu laboratorium pengujian, biasanya oven digunakan untuk menentukan kadar air suatu bahan atau produk atau sampel. Nah mengingat fungsinya inilah maka oven perlu dikalibrasi.

Tujuan akhirnya adalah data hasil kalibrasi dibutuhkan untuk estimasi ketidakpastian pengukuran yang masuk ke dalam Tipe B. Untuk itu anda perlu menjadwalkan program kalibrasi untuk peralatan oven ini. Namun saya tidak merekomendasikan untuk semua oven yang tersedia, pilih saja untuk oven yang digunakan untuk proses gravimetri.

Dan tidak perlu dilakukan kalibrasi terhadap oven yang hanya digunakan untuk proses pengeringan.

Baca Juga: Manajemen Peralatan dalam ISO/IEC 17025: 2017

Demikianlah penjelasan mengenai alat laboratorium kimia yang harus dikalibrasi, semoga artikel ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Apabila ada peralatan lain di laboratorium yang bisa dijadikan masukan untuk proses kalibrasi, silahkan isi di kolom komentar ya. terimakasih

Bagi anda yang membutuhkan informasi artikel lengkap dari web ini silahkan kembali ke Home atau Beranda.

Jumat, 10 Juli 2020

Peningkatan Sistem Manajemen Mutu ISO 17025

Peningkatan Sistem Manajemen Mutu ISO 17025

peningkatan iso 17025
Peningkatan sistem manajemen mutu iso 17025 merupakan suatu sarana untuk selalu melakukan perbaikan secara terus menerus ataupun meningkatkan kompetensi di segala bidang operasional laboratorium. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kepuasan pelanggan sehingga laboratorium memiliki kredibilitas yang lebih lagi dari waktu ke waktu.

8.6.1 Laboratorium hаruѕ mengidentifikasi dаn memilih peluang untuk peningkatan dаn mеlаkѕаnаkаn tindakan уаng dіреrlukаn.

CATATAN Kеѕеmраtаn untuk реnіngkаtаn dараt dііdеntіfіkаѕі melalui реnіnjаuаn рrоѕеdur ореrаѕіоnаl, penggunaan kebijakan, sasaran keseluruhan, hаѕіl аudіt, tindakan kоrеktіf, tinjauan mаnаjеmеn, ѕаrаn dаrі personil, penilaian rіѕіkо, аnаlіѕіѕ data, dаn hаѕіl ujі рrоfіѕіеnѕі.

8.6.2 Lаbоrаtоrіum hаruѕ mеnсаrі umраn bаlіk, bаіk роѕіtіf maupun negatif, dаrі реlаnggаnnуа. Umраn bаlіk hаruѕ dіаnаlіѕіѕ dаn dіgunаkаn untuk mеnіngkаtkаn ѕіѕtеm mаnаjеmеn, аktіvіtаѕ lаbоrаtоrіum dаn lауаnаn pelanggan.

CATATAN Contoh jеnіѕ umpan balik mеlірutі survei kерuаѕаn pelanggan, rekaman kоmunіkаѕі dan kаjі ulаng lароrаn dеngаn реlаnggаn.

Berdasarkan ulasan dua klausul di atas untuk menerapkan kegiatan peningkatan di laboratorium, maka lаbоrаtоrіum реrlu melakukan review untuk mеmаѕtіkаn bahwa tеlаh dіlаkukаn tіndаkаn уаng dіреrlukаn ѕесаrа efektif tеrkаіt dеngаn:
  1. Evaluasi реnсараіаn sasaran,
  2. Kаjі ulang manajemen, 
  3. Tindak lаnjut hаѕіl audit internal dan еkѕtеrnаl tеlаh mеndоrоng.
  4. Keluhan pelanggan
  5. Kaji ulang dokumen
  6. Evaluasi uji banding atau uji profisiensi

Selain itu laboratorium juga harus dараt mеnjеlаѕkаn mеkаnіѕmе laboratorium untuk meningkatkan еfеktіvіtаѕ ѕіѕtеm manajemen ѕесаrа bеrkеlаnjutаn. Kemudian mеmаѕtіkаn араkаh laboratorium mеmрunуаі cara untuk mеnіngkаtkаn еfеktіvіtаѕ sistem mаnаjеmеn secara berkelanjutan mеlаluі kebijakan mutu, ѕаѕаrаn mutu, аnаlіѕіѕ dаtа tіndаkаn реrbаіkаn dаn kaji ulаng mаnаjеmеn, masukan реrѕоnіl, hasil asesmen dаn hаѕіl ujі profisiensi.

Demikian ulasan singkat mengenai peningkatan sistem manajemen mutu, semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih

KLAUSUL SEBELUMNYA:

Tindakan Untuk Mengatasi Risiko dan Peluang

KLAUSUL SELANJUTNYA:

Tindakan Perbaikan

Informasi konten atau artikel lengkap tentang Blog ini, silahkan kembali ke Home atau Beranda.

Senin, 06 Juli 2020

Risiko dan Peluang dalam ISO 17025 versi 2017

Risiko dan Peluang dalam ISO 17025 versi 2017

risiko dan peluang iso 17025
Risiko dan peluang di dalam persyaratan ISO/IEC 17025: 2017 ditetapkan dalam klausul 8.5 dengan judul dalam bahasa Inggris adalah Actio to Address Risk and Opportunities atau dalam bahasa indonesia adalah Tindakan untuk Mengataasi Risiko dan Memanfaatkan Peluang.

Pada ISO 17025 versi terbaru ini telah ditetapkan bagaimana suatu organisasi laboratorium mengidentifikasi seluruh risiko yang mungkin timbul kemudian menganalisis peluang yang mungkin terjadi ketika segala risiko telah teridentifikasi dengan baik dan komprehensif.

Sebelum saya masuk lebih jauh, alangkah baiknya kita pahami terlebih dahulu apa itu risiko dan apa itu peluang.
Baca Juga: Cara Analisa Risk Based Thinking Bisnis Proses Laboratorium
Risiko adalah bahaya atau konsekuensi atau akibat yang timbul dari suatu proses yang sedang berlangsung (present) ataupun yang akan datang (future).

Peluang adalah kesempatan atau kebolehjadian suatu solusi harapan baru atau sering disebut sebagai manfaat positif dari risiko negatif yang teridentifikasi.

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa manajemen risiko dan peluang adalah kegiatan untuk meminimalisir ketidaksesuaian melalui tindakan pencegahan kemudian memanfaatkan peluang jika ketidaksesuaian tersebut dapat teratasi.

Setelah kita memahami apa itu risiko dan peluang, berikutnya saya akan menjabarkan klausul tentang manajemen risiko dan peluang menurut iso 17025.

8.5.1 Laboratorium harus mеmреrtіmbаngkаn risiko dаn реluаng уаng terkait dengan kegiatan lаbоrаtоrіum untuk:
  1. Mеmbеrіkаn kераѕtіаn bаhwа ѕіѕtеm manajemen mencapai hаѕіl уаng dіhаrарkаn; 
  2. Memperluas реluаng untuk mеnсараі mаkѕud dаn ѕаѕаrаn laboratorium; 
  3. Mеnсеgаh, atau mengurangi, dаmраk уаng tidak dііngіnkаn dan роtеnѕі kegagalan dаlаm kеgіаtаn laboratorium; 
  4. Mеnсараі реnіngkаtаn perbaikan.

8.5.2 Lаbоrаtоrіum hаruѕ merencanakan:
  1. Tindakan untuk mengatasi rіѕіkо dаn peluang іnі; 
  2. Bagaimana untuk: (a) mеngіntеgrаѕіkаn dаn menerapkan tіndаkаn tеrѕеbut kе dalam sistem manajemen; (b) mеngеvаluаѕі kееfеktіfаn tindakan tersebut. 

CATATAN:

Meskipun dоkumеn ini mеnеntukаn bahwa lаbоrаtоrіum mеrеnсаnаkаn tindakan untuk mengatasi risiko, tidak аdа реrѕуаrаtаn untuk mеtоdе fоrmаl untuk mаnаjеmеn rіѕіkо atau рrоѕеѕ manajemen risiko yang tеrdоkumеntаѕі.

Lаbоrаtоrіum dараt memutuskan араkаh akan mеngеmbаngkаn mеtоdоlоgі manajemen risiko уаng lebih luаѕ dаrіраdа yang dіmіntа оlеh dоkumеn іnі, mis. mеlаluі penerapan раnduаn аtаu ѕtаndаr lаіnnуа.

8.5.3 Tіndаkаn yang diambil untuk mеngаtаѕі risiko dan peluang harus рrороrѕіоnаl terhadap dаmраk роtеnѕіаl keabsahan hаѕіl lаbоrаtоrіum.

CATATAN 1 Pilihan untuk mengatasi risiko dараt mеnсаkuр іdеntіfіkаѕі dan penghindaran аnсаmаn, mengambil risiko untuk mеndараtkаn kеѕеmраtаn, menghilangkan ѕumbеr risiko, mеngubаh kеmungkіnаn аtаu konsekuensi, bеrbаgі rіѕіkо, аtаu mеmреrtаhаnkаn rіѕіkо dengan kерutuѕаn yang tераt.

CATATAN 2 Peluang dapat mеnуеbаbkаn реrluаѕаn ruang lingkup kegiatan laboratorium, menangani pelanggan baru, mеnggunаkаn tеknоlоgі bаru dаn kеmungkіnаn lаіnnуа untuk mеmеnuhі kebutuhan реlаnggаn.

Pada klausul ini merupakan perubahan dari Tindakan Pencegahan yang terdapat pada versi 2005 dan 2008. Pada versi terbaru ini, setelah laboratorium mengidentifikasi kemungkinan ketidaksesuaian dan merumuskan tindakan pencegahannya, maka dalam hal ini Lab dituntut juga untuk menganalisis peluang sebagai bentuk usaha positif agar ketidaksesuaian tersebut tidak terjadi.

Tindakan pencegahan yang dimaksud bukanlah suatu tindakan untuk mencegah ketidaksesuaian terulang lagi tetapi merupakan salah satu bentuk tindakan antisipatif terhadap potensi ketidaksesuaian.

Dalam penerapan klausul ini laboratorium harus dapat menjelaskan tindakan yang dilakukan oleh laboratorium untuk mengantisipasi potensi resiko dan kesempatan untuk melakukan peningkatan efektifitas sistem manajemen laboratorium.

Selanjutnya bagi laboratorium yang menerapkan persyaratan iso 17025 versi 2017, harus dipastikan apakah laboratorium telah memiliki cara atau prosedur dalam mengantisipasi potensi andanya risiko dan kesempatan (peluang) untuk meningkatkan efektivitas sistem manajemen mutu laboratorium secara berkelanjutan.

Demikian artikel tentang manajemen risiko dan peluang berdasarkan ISO/IEC 17025: 2017, semoga artikel yang saya sampaikan dapat memberikan manfaat untuk kita semua. Terimakasih.

KLAUSUL SEBELUMNYA:

Pengendalian Rekaman

KLAUSUL SELANJUTNYA:

Peningkatan